SUTAN MAKMUR

ciloteh dikala senggang

Foto Saya
Nama:
Lokasi: batam

Pekerja Media, Peminat Sejarah. Tinggal di Batam, Kepri.

Rabu, 28 Januari 2009

Ahmad Dahlan, Aris dan PS Batam

Bicara sepakbola Batam, takkan ada habis-habislah. Sayang, fokusnya bukan prestasi melainkan nasib Persatuan Sepakbola (PS)Batam nasibnya yang tak jelas. Stratanya tak naik-naik, malahan hampir terancam turun ke Divisi III PSSI. Sungguh ironis, sebuah kota yang begitu populer hanya mampu melahirkan klub sepakbola yang berlaga di Divisi II.

Pecinta sepakbola Batam tentunya mengimpikan bisa melihat langsung klub-klub terbaik Indonesia berlaga. Tak hanya di layar kaca, tapi bisa menyaksikan Bambang Pamungkas, Boaz Salossa atau pemain-pemain idola lain memperlihatkan keterampilannya mengolah bola di Stadion Temenggung Abdul Jamal. Semuanya mustahil dengan kondisi sekarang. Kasta sepakbola Batam kalah
jauh.

Siapa yang harus disalahkan? pengurus PS Batam jelas harus bertanggungjawab. Susah-susah mantan pemain nasional Jessie Mustamu mengangkat tim kebanggaan Kepri ini ke Divisi II tahun 2005 lalu. Tapi, ditangan kepengurusan baru PS Batam yang dipimpin Aris Hardy Halim, PS Batam tak ikut berlaga dalam kompetisi Divisi II PSSI tahun 2008lalu. Alasannya klise, tak punya
dana.

Saat itu pengurus PS Batam telah melakukan malam penggalangan dana. Namun, malam penggalangan dana untuk persiapan PS Batam berlaga di Divisi II wilayah Sumatera itu gagal mencari dana yang ditargetkan. Pengurus PS Batam menargetkan dana sekitar Rp1 miliar. Dengan alasan tak ada ini pula, pengurus PS Batam memutuskan PS Batam tak ikut kompetisi. Sedangkan lawannya di grup yang sama, seperti PSPP Pandangpanjang yang juga minim dana, tetap ikut berlaga.

Wali Kota Batam Ahmad Dahlan yang juga Ketua Umum PSSI Batam hanya diam dan tak turun tangan mencarikan solusi agar PS Batam bisa bertanding. Sangat disayangkan, tak sulit mencarikan dana ratusan juta, bahkan Rp1 miliar jika Dahlan turun tangan.

Tinggal melobi sana-sini, uang Rp1 miliar diyakini gampang diraih. Ini masalah kemauan. Wako tak hobi bola, meski jabatannya mentereng Ketua Umum PSSI Batam. Jadinya nasib PS Batam dibiarkan terlantar. Setali tiga uang, Ketua Umum PS Batam yang baru, Aris Hardy Halim yang sehari-hari menjabat Wakil Ketua DPRD Batam tak bisa berbuat banyak. Sama dengan wako, Aris juga tak hobi dan pengalaman mengurus bola. Jabatan tinggal jabatan, PS Batam tinggal nama.

Soal potensi pemain sepakbola, Batam tak kalah. Jessi Mustamu pun memuji minat warga Batam terhadap sepakbola. Kultur sepak bola di Batam, katanya juga sangat kental. Hampir 90 persen perusahaan di sana memiliki klub sepak bola. Sayangnya, pemain-pemain level perusahaan itu hanya berkiprah sampai level kota Batam. Nyaris tak ada pemain yang bermain merumput ke luar daerah belakangan ini. Apalagi tak satu pun klub di Kepri yang berlaga di level Divisi II PSSI, kecuali PS Batam.

Kini saatnya, struktur pengurus Pengcab PSSI Batam dan PS Batam harus dirombak. Tak perlu jabatan wako untuk jadi ketua PSSI. Demikian juga Aris harus legowo mundur sebagai ketua umum PS Batam. Keduanya jelas tak punya kapasitas. Ganti saja dengan orang lain yang peduli sepakbola Batam. Masih banyak tokoh atau pejabat di Batam yang gila bola dan bisa memimpin PSSI Batam dan PS Batam. Jika dibiarkan nasib PS Batam akan mati suri. Sepakbola Batam selalu berkutat pada level perusahaan. ***